Sebelumnya, potongan dari rukun tersebut telah ditempelkan dan dipaku pada masa Bani Fatimiah.
Mungkin yang anda saksikan sekarang adalah perak dan bekas pakunya dengan perubahan warna karena bekas minyak wangi dan pengaruh usapan orang-orang yang thawaf.
Yang disyariatkan adalah mengusap rukun Yamani tanpa mencium atau bertakbir. Jika tidak memungkinkan untuk mencium, tidak perlu melambaikan tangan, karena tidak ada riwayat yang menyebutkan perbuatan Nabi shallallahu alaihi wa sallam.
Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, "Dahulu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pada Rukun Yamani mengusapnya dan tidak bertakbir. Karena itu, tidak disunahkan bertakbir ketika mengusapnya." (Asy-Syarhul Mumti, 7/283)
Syekh Al-Albany rahimahullah berkata, "Rukun Yamani diusap dengan tangan pada setiap putaran thawaf, namun tidak dicium. Jika tidak memungkinkan untuk mengusapnya, tidak disyariatkan memberikan isyarat dengan tangannya."
(Manasi Haji dan Umrah, hal. 22)
Adapun masalah mengusap ditunjukkan oleh riwayat Hakim dari hadits Ibnu Umar, sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, apabila thawaf di Baitullah, mengusap Hajar (Aswad) dan Rukun (Yamani) setiap kali thawaf." (Shahih Al-Jami, no. 4751)
Terkait dengan keutamaan mengusap Rukun Yamani, terdapat sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam, "Sesungguhnya, mengusap Hajar Aswad dan Rukun Yamani dapat menghapuskan dosa-dosa." (HR. Ahmad dari Ibnu Umar, dinyatakan shahih oleh Al-Albany dalam Shahih Al-Jami, no. 2194)
INGIN UMROH MURAH ?
KLIK DI SINLIBURANMURAH.CO/?REG=HADZIQI !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar