LiburanMurah.co

Tampilkan postingan dengan label Rukun Yamani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rukun Yamani. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Agustus 2015

Posisi Rukun Yamani

Kita sering mendengarkan kata-kata rukun Yamani,rukun Iraqi,rukun Aswad atau hajar aswad,rukun Syami baik itu ketika menjalankan ibadah haji maupun umroh serta ketika ada manasik-manasik haji dan umroh,berikut adalah penjelasannya
Rukun yang dimaksudkan disini adalah rukun yang arti harfiahnya “Sudut atau Pojok”. Dalam pengertian itulah keempat sudut Ka’bah diberi nama Rukun Aswad, Rukun Iraqi, Rukun Syami dan Rukun Yamani
Rukun Yamani dan Rukun Aswad.(Sudut Aswad)
disebut juga “Dua rukun Yamani” karena kedua rukun ini menghadap ke arah negeri Yaman. Rukun Aswad  lebih dikenal dengan Hajar Aswad atau Batu Hitam. Rukun ini dipandang sebagai rukun yang paling penting dan lebih dimuliakan disisi Allah SWT, karena memiliki nilai sangat istimewa. Para jema’ah haji biasanya mencium dan mengusap Hajar Aswad. Berdasarkan sabda Rasulullah SAW.
“Ma’atitu ‘alaihi Qaththun illaa wa jibrillu Qaimun indahu yastaqkfiru liman yastalimuhu”
 Artinya
“saya tidak pernah mendatanginya melainkan jibril berdiri di sisinya,minta ampunkan setiap orang yang mengecupnya”
Rukun ini memiliki 4 empat keutamaan, yaitu

Indahnya Rukun Yamani dalam Haji

Rukun yamani. Inilah salah satu sudut Ka’bah yang mampu menyedot perhatian jamaah haji dan umrah, setelah hajar aswad. Menyentuh sudut Ka’bah yang menghadap ke arah Yaman itu tidaklah sesulit menggapai hajar aswad.

Perjuangan menyentuh rukun yamani tak sesulit mencium atau menyentuh hajar aswad. Bahkan, setiap kali putaran thawaf jamaah yang berada dekat Ka’bah bisa menyentuh dan bahkan mencium rukun yamani. Wangi sudut Ka’bah yang satu ini menempel pada tangan yang menyentuhnya.

Setiap kali menunaikan thawaf, saya selalu berusaha untuk menyentuh sudut Ka’bah yang berada di bagian timur itu.  Agar bisa menyentuh rukun yamani dalam setiap putaran thawaf, saya selalu berupaya untuk mendekat ke arah Ka’bah.  Jika tak terlalu banyak jamaah yang bergerombol di dekatnya, rukun yamani tak pernah terlewatkan.

‘’Rasulullah SAW menyentuh rukun yamani dan hajar aswad dalam setiap thawaf,’’ tutur Ibnu Umar RA dalam sebuah riwayat. Jabir RA juga pernah menceritakan, pada saat Fathu Makkah, Rasulullah menyentuh rukun yamani dan hajar aswad dengan sebatang tongkat.

Rukun Yamani

Disebutkan dalam Kitab At-Tarikh Al-Qawim Li Makkah Wa Baitillahil Karim (Sejarah lurus tentang Mekah dan Baitulah yang mulia) oleh pengarang Muhammad Thahir Al-Kurdy Al-Makky, jilid 3, hal. 256, bahwa batu pada Rukun Yamani pembangunannya berasal pada masa Abdullah bin Zubair radhiallahu anhu dan tetap ada sampai sekarang. Siapa yang memperbarui pembangunan Ka'bah tetap memelihata rukun tersebut. Disebutkan bahwa pada tahun 1040 H, pada masa Sultan Murad ke-4 yang merenovasi Ka'bah, bagian dari rukun tersebut pecah. Maka ditambahkan pada tempat itu perak cair.
Sebelumnya, potongan dari rukun tersebut telah ditempelkan dan dipaku pada masa Bani Fatimiah.
Mungkin yang anda saksikan sekarang adalah perak dan bekas pakunya dengan perubahan warna karena bekas minyak wangi dan pengaruh usapan orang-orang yang thawaf.
Yang disyariatkan adalah mengusap rukun Yamani tanpa mencium atau bertakbir. Jika tidak memungkinkan untuk mencium, tidak perlu melambaikan tangan, karena tidak ada riwayat yang menyebutkan perbuatan Nabi shallallahu alaihi wa sallam.