LiburanMurah.co

Jumat, 28 Agustus 2015

Ka'bah dan Mereka yang Menumpahkan Darah

Mekkah jatuh ke tangan Rasulullah SAW pada peristiwa Fathu Makkah yang nyaris tanpa pertumpahan darah. Barangkali inilah satu-satunya momen penaklukkan Mekkah dengan korban yang minimal. Jika saja kaum Quraisy pada waktu itu patuh pada usulan Abu Sufyan, Fathu Makkah akan bersih dari darah. Tapi sebagian mereka memilih melawan sehingga pasukan Khalid bin Walid pun terpaksa mengeluarkan pedang.

Kondisi relatif aman pada masa Khulafaur Rasyidin. Ketika masa-masa ini usai, banyak ketidakpuasan muncul dari kalangan muslimin terhadap kekhalifahan—atau monarki, karena masa Muawwiyah bin Abu Sufyan lebih mirip monarki.

Di masa Yazid bin Muawwiyah, pasca tragedi Karbala, Abdullah bin Zubair, cucu dari Abu Bakar ash-Shiddiq, mengklaim diri sebagai Khalifah atas Tanah Hijaz. Beliaupun mendapat baiat dari banyak kaum muslimin, terutama mereka yang tidak puas pada kepemimpinan Yazid bin Muawwiyah.

Kamis, 27 Agustus 2015

Tragedi Makkah Berdarah




Tragedi Berdarah 20 November 1979
Inilah Sejarahnya;

Tragedi Berdarah dan Pengkudetaan Makkah  itu terjadi pada waktu selesai sholat shubuh tanggal 20 November 1979 atau persis tanggal 1 Muharram 1400 H. Sholat subuh tersebut diimami oleh "Muhammad bin Subail". Persis saat selesai sholat dan imam menutup doa dengan harapan akan kedamaian di muka bumi, ratusan teroris mengeluarkan senapan-senapan mereka dari balik baju yang mereka bawa masuk ke dalam masjidil haram. Mereka masuk ke dalam masjid dengan cara berbaur diantara ratusan ribu jamaah haji yang akan melakukan sholat subuh. Seusai sholat, mereka merangsek diantara kerumunan jamaah menuju ka'bah dan menembak 2 orang askar yang hanya bersenjatakan pentungan kayu. Beberapa pemberontak juga menembak burung-burung merpati dengan senjata laras panjang yang mereka bawa.Di tengah kegaduhan itu, Juhaiman al-Utaibi, pemimpin pemberontakan berpaham wahabiyah radikal muncul diapit tiga anggota kelompok militan bersenjata bedil, pistol, dan belati menerobos kerumunan menuju Ka’bah.  Matanya hitam memikat, rambutnya sebahu, dan jenggotnya hitam berombak. Laki-laki Badui berumur 43 tahun itu memakai jubah tradisional Saudi berwarna putih yang dipotong pendek di pertengahan kaki, sebagai simbol penolakan terhadap kekayaan materi.Kudeta Masjidil Haram Mekkah 1979Ketakutan terasa menyerebak, tanpa rasa hormat, Juhaiman mendorong dan merebut mikrofon dari imam masjidil haram. Hunusan senjata memaksa sang imam mundur dan tak berdaya akan kejadian hari itu, walaupun dia telah berusaha

Uniknya Masjidil Haram

title

1. MASJIDIL HARAM

Masjidil HaramMasjid ini berbentuk empat persegi dan dibangun mengelilingi Ka’bah, berbeda dengan masjid manapun didunia, shaf di Masjidil Haram ini berbentuk lingkaran, semuanya menghadap ke Ka’bah yang berada di tengah-tengah. Ini merupakan keunikan yang tidak dimiliki masjid manapun di dunia. Adapun Spesifikasi Masjidil Haram :
  • Luas Masjidil Haram ± 656.000 m², dapat menampung 730.000 jamaah dalam satu waktu sholat berjamaah pada hari biasa dan lebih dari 1juta jamaah pada musim Haji
  • Memiliki Tiga Lantai
  • Menara berjumlah tujuh buah
  • Keistimewaan masjid ini adalah : Sholat di masjid ini lebih utama dari sholat 100.000 kali di masjid lain.
altPINTU MASJIDIL HARAM 
Masjidil Haram adalah masjid Raksasa hingga memiliki sangat banyak pintu yaitu ada 4 pintu utama dan 45 pintu biasa, tiap pintu memiliki nama sendiri karena banyaknya jumlah pintu tersebut tak heran jika banyak jamaah yang tersesat ketika keluar dari Masjidil Haram. Inilah nama-nama Bab (pintu) Masjidil Haram :

Posisi Rukun Yamani

Kita sering mendengarkan kata-kata rukun Yamani,rukun Iraqi,rukun Aswad atau hajar aswad,rukun Syami baik itu ketika menjalankan ibadah haji maupun umroh serta ketika ada manasik-manasik haji dan umroh,berikut adalah penjelasannya
Rukun yang dimaksudkan disini adalah rukun yang arti harfiahnya “Sudut atau Pojok”. Dalam pengertian itulah keempat sudut Ka’bah diberi nama Rukun Aswad, Rukun Iraqi, Rukun Syami dan Rukun Yamani
Rukun Yamani dan Rukun Aswad.(Sudut Aswad)
disebut juga “Dua rukun Yamani” karena kedua rukun ini menghadap ke arah negeri Yaman. Rukun Aswad  lebih dikenal dengan Hajar Aswad atau Batu Hitam. Rukun ini dipandang sebagai rukun yang paling penting dan lebih dimuliakan disisi Allah SWT, karena memiliki nilai sangat istimewa. Para jema’ah haji biasanya mencium dan mengusap Hajar Aswad. Berdasarkan sabda Rasulullah SAW.
“Ma’atitu ‘alaihi Qaththun illaa wa jibrillu Qaimun indahu yastaqkfiru liman yastalimuhu”
 Artinya
“saya tidak pernah mendatanginya melainkan jibril berdiri di sisinya,minta ampunkan setiap orang yang mengecupnya”
Rukun ini memiliki 4 empat keutamaan, yaitu

Indahnya Rukun Yamani dalam Haji

Rukun yamani. Inilah salah satu sudut Ka’bah yang mampu menyedot perhatian jamaah haji dan umrah, setelah hajar aswad. Menyentuh sudut Ka’bah yang menghadap ke arah Yaman itu tidaklah sesulit menggapai hajar aswad.

Perjuangan menyentuh rukun yamani tak sesulit mencium atau menyentuh hajar aswad. Bahkan, setiap kali putaran thawaf jamaah yang berada dekat Ka’bah bisa menyentuh dan bahkan mencium rukun yamani. Wangi sudut Ka’bah yang satu ini menempel pada tangan yang menyentuhnya.

Setiap kali menunaikan thawaf, saya selalu berusaha untuk menyentuh sudut Ka’bah yang berada di bagian timur itu.  Agar bisa menyentuh rukun yamani dalam setiap putaran thawaf, saya selalu berupaya untuk mendekat ke arah Ka’bah.  Jika tak terlalu banyak jamaah yang bergerombol di dekatnya, rukun yamani tak pernah terlewatkan.

‘’Rasulullah SAW menyentuh rukun yamani dan hajar aswad dalam setiap thawaf,’’ tutur Ibnu Umar RA dalam sebuah riwayat. Jabir RA juga pernah menceritakan, pada saat Fathu Makkah, Rasulullah menyentuh rukun yamani dan hajar aswad dengan sebatang tongkat.

Rukun Yamani

Disebutkan dalam Kitab At-Tarikh Al-Qawim Li Makkah Wa Baitillahil Karim (Sejarah lurus tentang Mekah dan Baitulah yang mulia) oleh pengarang Muhammad Thahir Al-Kurdy Al-Makky, jilid 3, hal. 256, bahwa batu pada Rukun Yamani pembangunannya berasal pada masa Abdullah bin Zubair radhiallahu anhu dan tetap ada sampai sekarang. Siapa yang memperbarui pembangunan Ka'bah tetap memelihata rukun tersebut. Disebutkan bahwa pada tahun 1040 H, pada masa Sultan Murad ke-4 yang merenovasi Ka'bah, bagian dari rukun tersebut pecah. Maka ditambahkan pada tempat itu perak cair.
Sebelumnya, potongan dari rukun tersebut telah ditempelkan dan dipaku pada masa Bani Fatimiah.
Mungkin yang anda saksikan sekarang adalah perak dan bekas pakunya dengan perubahan warna karena bekas minyak wangi dan pengaruh usapan orang-orang yang thawaf.
Yang disyariatkan adalah mengusap rukun Yamani tanpa mencium atau bertakbir. Jika tidak memungkinkan untuk mencium, tidak perlu melambaikan tangan, karena tidak ada riwayat yang menyebutkan perbuatan Nabi shallallahu alaihi wa sallam.